Hi Hemera Family, udah pada denger kan berita #Uangdimakanrayap kemarin? Kehilangan uang 100.000 saja, rasanya sangat sedih ya fams. Gimana kalau nominalnya sampai 10.000.000? Dengan perkembangan teknologi saat ini, risiko uang rusak macam ini sebenarnya dapat diminimalisir loh. Mau tau caranya? Yuk simak artikel ini.

Uang dimakan rayap
Uang dimakan Rayap?

Selain untuk belanja kebutuhan bulanan, hampir setiap orang juga menyisihkan uangnya untuk disimpan dan dijadikan sebagai tabungan atau dana darurat jika dibutuhkan dalam keadaan mendadak. Sayangnya, hingga saat ini masih ada saja orang yang menyimpan uang di sembarang tempat, sehingga uang tersebut menjadi lusuh dan mudah rusak.

Seperti halnya yang dialami oleh Putri Buddin yang memiliki pengalaman miris dalam menyimpan uang. Pada pertengahan Agustus 2019, kemarin, wanita yang masih berusia 23 tahun ini menceritakan kisahnya tersebut di akun Twitternya @putribuddin.

Wanita yang disapa Putri ini mengunggah foto tumpukan uang di dalam plastik putih tapi sayangnya uang sudah dalam kondisi rusak. โ€˜Niat hati biar ga boros, simpen uang di lemari, eh malah dimakan rayap. Sedih banget sumpaaah. Kalo kaya uangnya rusak separah ini bisa dituker ke bank ga si guys? Huhu,โ€™ jelasnya dalam keterangan foto tersebut.

Uang dimakan Rayap
Insight Kasus Uang dimakan Rayap?

Insight Kasus

Usut punya usut, ternyata di Indonesia 64% populasi di Indonesia masih unbanked dan 42% diantaranya adalah generasi milineal. Fakta ini sebenarnya cukup mengejutkan mengingat penting dan vitalnya peranan financial services dalam kehidupan. Misalnya saja hal yang paling sederhana terkait penyimpanan. Sistem keamanan yang dimiliki Bank sudah dibuat begitu rupa hingga kecil kemungkinan untuk dicuri. Pun, kerusakan dan kehilangan karena human error seperti uang tercecer, sobek, terlipat atau kecelakaan lainnya karena kesalahan penyimpanan dapat diminimalisir.

Data lain terkait rendahnya tingkat kepemilikan rekening tabungan Indonesia juga dikeluarkan oleh Bank Dunia dalam Financial Inclusion Index. Dilansir dari kata data, total pemilik rekening di Indonesia hanya sekitar 168.4 juta sedangkan populasi Indonesia hingga saat ini telah memasuki angka 256 juta jiwa. Ini berarti hamper hampir 40 persen dari total penduduk Indonesia tidak memiliki rekening bank. Kondisi itu menyebabkan Indonesia menjadi satu dari tujuh negara yang memiliki populasi tak berekening tabungan cukup besar di dunia.

Hal ini memang sangat disayangkan karena dengan memiliki rekening tabungan, masyarakat akan mendapatkan keuntungan pengelolaan keuangan yang lebih terarah. Misalnya ketika kamu rajin menabung 20 persen dari penghasilan per bulan, kamu akan lebih mudah mengontrolnya. Ditambah lagi, setiap transaksi keluar masuknya uang, masuk ke dalam buku tabungan. Kamu bisa dengan mudah mengetahui uang keluar tersebut digunakan untuk apa saja? Begitu juga dengan jumlah uang yang masuk, melalui buku tabungan semua transaksi akan tercatat.

Alasan Tidak Punya Buku Tabungan
Uang dimakan Rayap

Lalu, kenapa sih masih banyak orang yang belum punya tabungan?

Berikut merupakan faktor-faktor mengapa seseorang seseorang belum punya tabungan.

  • Tidak Memiliki Uang untuk Saldo Minimal atau Setoran Pertama
    Saat membuka rekening bank, umumnya calon nasabah akan diberikan formulir pembukaan dan melakukan penyetoran uang pertama. Setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai penyetoran uang pertama dalam rekening, tapi umumnya bank akan meminta para nasabahnya untuk memasukkan kurang lebih Rp 500.000,- untuk nominal setoran pertama. Bagi sebagian besar masyarakat, nominal tersebut dinilai terlalu besar dan mereka tidak menyanggupi nominal tersebut.Tak hanya itu saja, para nasabah juga harus mengendapkan uang dalam rekening tersebut. Kembali lagi, saldo minimal sangat bervariasi per bank-nya. Ada yang hanya menuntut nasabahnya memiliki saldo minimal Rp 10.000 โ€“ Rp 20.000. Namun, ada beberapa bank yang mengharuskan nasabahnya untuk mengendapkan uang lebih dari Rp 50.000,-. Hal tersebut dinilai sangat memberatkan Nasabah.
  • Lokasi Tidak Terjangkau
    Insfrastruktur di Indonesia bisa dibilang masih kurang seimbang. Bila kita tinggal di Pulau Jawa, bisa beberapa kantor cabang bank dan ATM relatif mudah ditemukan, walaupun jaraknya memang kurang bersahabat. Namun, coba kamu pikirkan bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di luar pedalaman atau luar Jawa? Jumlah kantor cabang relatif lebih sedikit dengan jarak yang sangat jauh.
  • Anggota Keluarga Lain yang Sudah Memiliki Rekening
    Selain dikarenakan setoran pertama dan lokasi yang kurang bersahabat, banyak responden survei yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rekening dikarenakan anggota keluarga lainnya yang tinggal satu rumah sudah memiliki rekening. Kondisi ini kebanyakan terjadi pada anggota keluarga yang tinggal di pedesaan. Mereka berpikir bahwa bank cukup jauh untuk dijangkau dan tak semua anggota keluarga akan pergi ke bank setiap harinya, untuk itu dalam satu keluarga mereka hanya membuat satu rekening bank untuk bersama. Tak hanya lebih efisien, hal ini juga mengurangi beban nominal saldo minimal serta potongan biaya admin yang cukup besar.
  • Bunga Tabungan Mahal
    Rata-rata orang menabung ke bank adalah untuk mendapatkan bunga. Sayangnya, saat ini bunga bank tidak sesuai dengan inflasi yang ada. Bahkan, butuh setidaknya Rp 17 juta untuk mendapatkan bunga Rp 17.000 per bulan. Sedangkan biaya admin-nya bisa mencapai Rp 13.000 per bulannya.
  • Administrasi yang Tak Lengkap
    Ada semacam hambatan psikologis untuk masuk ke bank, misal harus bersepatu. Atau belum tentu punya KTP. Belum lagi, hambatan transaksi di mana transaksi perbankan harus dilakukan di cabang bank atau di ATM yang belum tentu tersedia di banyak tempat. Ingat, tidak semua masyarakat Indonesia melek technology finance walaupun mereka menggunakan ponsel pintar. Kondisi itu menyebabkan Indonesia menjadi satu dari tujuh negara yang memiliki populasi tak berekening tabungan cukup besar di dunia.
  • Alasan keagamaan dan tidak adanya kebutuhan terhadap jasa institusi finansial juga berdampak terhadap enggannya masyarakat untuk memiliki tabungan di bank.
Uang dimakan Rayap
Fintech Sebagai Solusi

Fintech sebagai solusi

Di samping itu, Indonesia semakain adaptif dalam menggunakan tenologi. Tercatat, 177,9 juta pengguna, dengan tingkat penetrasi mencapai 67% populasi di Indonesia mengunakan perangkat mobile (https://teknologi.bisnis.com/read/20180201/101/733037/pengguna-perangkat-mobile-di-indonesia-semakin-tinggi-ini-datanya). Dengan banyakanya mobile phone ini, Fintech digadang-gadang bakal menjadi solusi terbaik, karena merupakan perpaduan antara teknologi dengan fitur jasa keuangan yang mengubah model bisnis dan mengurangi barrier to entry. Financial technology/FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.

FinTech muncul seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini didominasi oleh pengguna teknologi informasi tuntutan hidup yang serba cepat. Dengan FinTech, permasalahan dalam transaksi jual-beli dan pembayaran seperti tidak sempat mencari barang ke tempat perbelanjaan, ke bank/ATM untuk mentransfer dana, keengganan mengunjungi suatu tempat karena pelayanan yang kurang menyenangkan dapat diminimalkan. Dengan kata lain, FinTech membantu transaksi jual beli dan sistem pembayaran menjadi lebih efisien dan ekonomis namun tetap efektif.

Namun, pastikan FinTech yang akan kamu ikuti sudah tersertifikasi OJK dan atau BI ya Fams. Jangan sampai kamu malah tertipu dan rugi.

Jadi udah tahu kan, bagaimana teknologi bisa sangat membantu mengatasi permasalahan manusia. Kamu pun, bisa terlibat juga dalam pengembangan teknologi ini lho Fams. Kamu juga biss ikut kelas dan training Hemera untuk ikut kontribusi nyata terkait technology advancement. Kamu pun juga bisa cari tahu lebih jauh tentang perkambangan teknologi masa kini dengan membaca artikel lainnya.

 

Baca Juga : Tips Menjadi Wanita Karir di Bidang Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu