Tahukah Anda?

Di Indonesia dan bahkan mungkin di dunia, peran wanita dalam dunia Teknologi Informasi (TI/IT) boleh dibilang tidak terlalu menonjol. Ini terlihat dari komposisi pekerja IT dari kaum wanita yang masih relatif sedikit dan tidak signifikan.

Kecenderungan wanita untuk tidak terjun ke dunia IT memang menjadi pertanyaan tersendiri, padahal ada satu sosok wanita yang bisa menjadi inspirasi bagi wanita lainnya untuk menggeluti bidang IT.

Siapakah dia?

Dia adalah Ada Lovelace, seorang programmer komputer wanita pertama di dunia, yang menulis program pertamanya pada pertengahan abad ke-19. Meskipun namanya tidak tenar, namun Lovelace mempunyai peranan penting dalam penemuan komputer mekanika pertama di dunia.

Lahir pada bulan Desember Tahun 1815 dengan nama Augusta Ada Byron yang sekarang dikenal dengan nama Augusta Ada King, Countess of Lovelace atau Ada Lovelace. Lovelace adalah anak satu-satunya Annabella dan Lord Byron, seorang penyair terkenal pada masa itu.

Lovelace sebenarnya tidak pernah mengenal ayahnya karena pernikahan ayah dan ibunya itu sangat singkat. Hal itu diperburuk oleh kondisi Lovelace yang sering sakit-sakitan. Dia pernah lumpuh selama hampir setahun dan harus berjalan menggunakan kruk pada tahun 1831.

Annabella selalu melatih anaknya untuk lebih sering menggunakan otak kirinya agar tidak mengikuti jejak karir ayahnya. Hal itu didukung dengan kegemaran Lovelace terhadap bidang matematika. Saat Lovelace berusia 17 tahun, kemampuannya dalam bidang tersebut sudah mulai terlihat. Salah seorang guru Lovelace, Augustus De Morgan, sampai meminta agar ia lebih diarahkan ke bidang tersebut karena De Morgan melihat ada bakat istimewa dalam diri Lovelace.

Bagaimana Karir Ada Lovelace?

Saat berusia 17 tahun, Lovelace bertemu dengan Charles Babbage yang saat ini dikenal dengan panggilan “The Father of the Computer”. Saat itu Babbage adalah seorang ahli matematika dan juga seorang penemu. Babbage mengajari matematika kepada Lovelace.Babbage menciptakan “Difference Engine” yang mampu melaksanakan operasi matematika, Lovelace sangat terkesan dan tertarik dengan ide-ide Babbage. Sebaliknya, Babbage juga kagum dengan intelektual dan bakat menulis Lovelace. Babbage bahkan memberikannya julukan “The Enchantress of Numbers” Keduanya pun akhirnya menjalin kerjasama.

Tahun 1835 Lovelace menikah dengan William King. Sementara disibukkan dengan kehidupan rumah tangganya, Babbage mempersiapkan rencana untuk menciptakan alat lain yang bernama “Analytical Engine” yang mampu melaksanakan operasi matematika yang lebih kompleks. Dalam hal ini, peran besar Lovelace adalah menerjemahkan artikel Luigi Menabrea, seorang matematikawan Italia.

Lovelace tidak hanya menerjemahkan tulisan tersebut ke dalam Bahasa Inggris, Ia juga menambahkan pemikiran dan ide-idenya tentang mesin tersebut. Hasil terjemahannya menjadi tiga kali lebih panjang dibandingkan dengan naskah aslinya. Pada tahun 1843 hasil tulisannya diterbitkan dalam sebuah jurnal sains Inggris. Lovelace menggunakan inisial “A.A.L” (Augusta Ada Lovelace) dalam publikasinya. Didalam tulisannya, Lovelace mendeskripsikan bagaimana kode bisa diciptakan untuk mesin agar bisa menangani huruf dan simbol bersamaan dengan angka. Dia juga menteorikan metode untuk mesin agar dapat mengulangi beberapa instruksi, sebuah proses yang sekarang kita ketahui dengan istilah loop. Atas pekerjaannya ini, Lovelace dikenal sebagai programmer komputer pertama di dunia.

Berkat kontribusinya, pada tahun 1980 Departemen Pertahanan Amerika Serikat menamai bahasa pemrograman komputernya dengan nama “Ada” sebagai penghormatan pada Lovelace. Selain itu, British Computer Society pada tahun 2008 rutin menggelar kompetisi ilmu komputer bagi siswa perempuan secara rutin tiap tahunnya dan menamai medalinya dengan nama “Ada”. Setiap pertengahan Oktober, digelar acara “Ada Lovelace Day”, sebuah acara yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, teknik dan matematika.

Begitulah sekilas kisah hidup seorang Ada Lovelace, Programmer Pertama di Dunia. Bayangkan apabila tidak ada beliau, mungkin Charles Babbage tidak akan pernah menyelesaikan komputer pertamanya. Jika beliau tidak pernah menyelesaikannya, mungkin saja teknologi-teknologi yang sekarang kita pakai tidak akan pernah ada.

Ini menjadi bukti bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk ikut berkontribusi dalam bidang teknologi, khususnya teknologi komputer. Programmer tidak harus laki-laki, para wanita juga bisa! Semangat!

Sumber : https://teknologi.id/

 

Baca Juga : Kenapa Java Programming Sangat Dibutuhkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu
Open chat