Untuk urusan pekerjaan administratif, pada umumnya masyarakat terbiasa menggunakan Microsoft Office. Dengan detail program berupa Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Powerpoint dan beberapa jenis lainnya, kita merasa bahwa urusan administrasi hanya dapat terselesaikan dengan program-program tersebut.

Lebih dari itu, hampir semua organisasi atau perusahaan mengalami ketergantungan akan penggunaan produk tersebut. Bahkan, pemakaian Microsoft Office sempat mendapatkan kedudukan penting dalam penilaian suatu perekrutan. Di samping sebagai bahan pengisi curriculum vitae, sejumlah perusahaan justru juga terang-terangan menjadikan skill Microsoft Office sebagai syarat melamar untuk suatu lowongan pekerjaan.

Terkait hal tersebut, muncul beberapa pertanyaan: Apakah kemampuan menguasai Microsoft Office masih begitu pentingnya dalam menilai calon karyawan atau pemberdayaan sumber daya manusia di sebuah perusahaan? Apakah di tengah kemajuan teknologi informasi dan pergeseran sejumlah budaya sosial akibat kemajuan tersebut, penguasaan Microsoft Office masih memiliki nilai yang sama dengan beberapa tahun yang lalu?

Mengingat saat ini, program basis komputer untuk urusan administrasi ternyata tak lagi hanya Microsoft Office. Sejumlah pihak mulai beralih ke penggunaan GoogleDocs, sebagai sebuah alternatif yang menawarkan pengalaman administrasi baru, yaitu konektifitas.

Microsoft Office dihantui GoogleDocs yang perlahan menjadi kian populer

Salah satu alasan GoogleDocs mulai mendapat tempat yang lebih di masyarakat adalah tampilannya yang sederhana, sehingga pekerjaan terasa lebih menyenangkan. Selain itu, sebagaimana dikatakan di atas, konektifitas menjadi nilai lebih GoogleDocs karena memungkinkan satu pekerjaan diakses oleh beberapa orang. Tentu itu berguna untuk sebuah pekerjaan yang dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok.

Tampilannya yang sederhana menjadikan GoogleDocs mulai menyentuh selera sekolah-sekolah. Para siswa di beberapa sekolah di dunia mulai mencoba mengoperasikannya dan terlihat lebih tertarik untuk belajar. Satu keunggulan yang dirasakan anak-anak adalah mereka tidak harus mengklik tombol โ€˜saveโ€™ untuk menyimpan hasil proses belajar atau pekerjaan mereka. Bila sewaktu-waktu mereka lupa menyimpan, GoogleDocs akan menyimpannya secara otomatis. Tak hanya itu, sebagian pebisnis pun merasa nyaman atas tampilan sederhana dan konektifitas GoogleDocs. Hal tersebut sangat membantu produktivitas mereka dalam urusan administrasi, yang juga dapat terhubung langsung dengan pihak lain dalam suatu kerja sama.

GoogleDocs terus berkembang dan update

Popularitas yang perlahan naik tak menjadikan GoogleDocs berhenti sampai di sana. Teknologi ciptaan Google ini terus berbenah dan mengembangkan produknya agar menjadi benar-benar bernilai dan berfungsi dengan baik.

GoogleDocs terus melakukan sejumlah terobosan yang berusaha menggantikan posisi Mircrosoft Office, seperti adanya GoogleForm sebagai alternatif Microsoft PowerPoint. Terbukti, kini banyak yang menggunakannya untuk survey dan pendataan, yang hasilnya dapat terangkum langsung dalam sebuah file. Belum lagi, sejak awal pekerjaan dengan GoogleDocs pasti memanfaatkan penyimpanan Google Drive sehingga penyimpanan terasa lebih aman.

Akan tetapi, para pekerja IT menilai, kekurangan yang ada pada GoogleDocs adalah ketergantungan pada browser dan belum bisa berdiri sendiri sebagai suatu program yang sesungguhnya. Kita lihat saja nanti, apakah kekurangan ini kemudian akan melahirkan terobosan baru, atau justru tetap dipelihara namun terjadi peningkatan di sisi lainnya.

Microsoft Office memang usang, tapi masih merajai pasar

Pekerja IT juga mengakui bahwa Microsoft Office adalah bahan usang untuk urusan administrasi. Saking usangnya, hampir setiap orang dari kecil hingga tua dapat mengoperasikannya. Anak kecil pun bisa mahir menggunakan Microsoft Office atau Powerpoint.

Akan tetapi, Microsoft Office dipercaya belum dapat terkalahkan di pasar, sekalipun menjadi usang dan GoogleDocs semakin populer di tengah masyarakat. Beberapa sekolah atau perusahaan yang mulai beralih ke Google Docs masih belum sebanding dengan banyaknya yang masih bertahan menggunakan Microsoft Office.

Hal ini terbukti dengan data dan fakta yang menyebutkan bahwa perusahaan yang mensyaratkan skill Microsoft Office masih jauh lebih banyak dibandingkan GoogleDocs. Mengambil sampel dari website craigslist.org, dapat kita ketahui perbandingan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat dalam tiga hari ini, mana yang menjadikan Microsoft Office atau GoogleDocs sebagai syarat.

Di antara hasil perbandingannya, ada sekitar 1000 lowongan pekerjaan di Atalanta yang mensyaratkan Microsoft Office sebagai syarat, sementara hanya 2 lowongan yang membutuhkan skill GoogleDocs. Hal serupa juga terjadi di New York, di mana kebutuhan skill Microsoft Office mencapai 1000 lowongan dalam tiga hari, sedangkan GoogleDocs hanya 25 lowongan.

Apakah kebutuhan skill GoogleDocs akan menggantikan skill Microsoft Office?

Meskipun masih merajai pasar, pertanyaan mengenai kemungkinan punahnya Microsoft Office tetap bergulir. Banyak yang memprediksikan GoogleDocs akan menggantikannya, walaupun mungkin masih sangat lama. Namun, siapa yang bisa menebak, karena teknologi masih terus berkembang dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik.

Yang jelas, saat ini skill penggunaan Microsoft Office tetap dianggap penting dan relevan karena masih menjadi kebutuhan sejumlah perusahaan. Akan tetapi, ini juga adalah waktu yang tepat untuk mulai menyentuh GoogleDocs untuk perlahan menguasainya, agar tidak canggung ketika perubahan dinamika penggunaan teknologi dalam urusan administrasi terjadi.

Sumber: thelostprophet.weebly.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu